Sabtu, 29 November 2008

pamflet khitbah





Selengkapnya.....

Selasa, 28 Oktober 2008

Dr. Mahdi 'Akif, Mursyid 'Aam Ikhwanul Muslimin: "Insya Allah, Kemenangan Pasti Datang"


Mohonlah pertolongan pada Allah dan bersabarlah. Satukan barisan. Jangan tertipu oleh dunia. Jangan kalian disibukkan oleh urusan konflik politik sehingga melupakan problem asasi kita yang sebenarnya. Ingatlah bahwa inti kekuatan kalian terletak pada persatuan dan kuatnya persaudaraan.

Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam kepada Rasulullah saw.

Pada proses kelahiran biasanya terdapat rasa sakit. Tapi, pada saat yang sama, itu merupakan pertanda akan datangnya sebuah kabar gembira. Pertanda hadirnya sebuah kehidupan baru.

Umat Islam beberapa tahun terakhir merasakan berbagai macam rasa sakit dan penderitaan akibat ulah Firaun zaman modern. “Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)


Namun janji Allah SWT pasti akan tiba yaitu mereka yang tertindas oleh kekuatan Firaun akan diberi pertolongan. “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi, dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu .” (Al-Qashash: 5 - 6)

Mencermati Sejarah
Bagi mereka yang berpangku tangan dengan masalah yang menimpa Al Aqsha, juga bagi mereka yang menyerah pada kekuatan musuh, inilah kesaksian kami: “Orang-orang yang ditinggalkan itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka jahanam itu lebih sangat panas" jika mereka mengetahui. (At Taubah: 81)

Telah 60 tahun umat Islam terperangkap dalam jerat zionisme Israel yang membawa berbagai virus kerusakan. Mereka menguasai Al Quds, merampas berbagai peninggalan yang amat bersejarah; tembok Buroq, tempat lahirnya Isa, peningalan para nabi-nabi, lokasi kuburan para pejuang Islam. 
Virus kerusakan yang menjangkit ini terus bergerak menghancurkan Palestina. “Mereka tidak memelihara kerabat terhadap orang-orang mu'min dan tidak perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (At Taubah: 10)

Demokrasi yang diteriakkan oleh Bush, Lord Balfour dan teman-temanya semakin membuat virus ini bertambah gila. Sesungguhnya penjajahan Inggris yang berlangsung selama 28 tahun atas bumi Palestina merupakan langkah awal bagi berdirinya Negara Yahudi. Pada saat diproklamirkan tahun 1948, jumlah bangsa Yahudi telah mencapai 605.000 jiwa. Padahal, pada awal penjajahan Inggris jumlah mereka hanya 56.000 jiwa saja!!!

Bangsa Barat yang katanya pejuang HAM tak berbuat apa-apa pada saat penduduk Palestina yang berasal dari 531 kota dan desa terusir dari kampung mereka pada tahun 1948. Mereka adalah penduduk asli dari tanah air yang kini bernama Israel. Lebih dari 92 persen tanah Israel yang ada pada hari ini adalah milik pengungsi palestina yang diambil secara paksa.

Warga Palestina di pengungsian kini berjumlah sekitar 5.200.000, namun organisasi internasional yang mengurusi para pengungsi hanya mengurusi sekitar 4 jutaan dan bantuan yang diberikanpun berkurang dari tahun ke tahun.

Pembantaian Zionis atas bangsa Palestina
Selama bertahun-tahun, secara langsung dan tak langsung, Inggris terlibat dalam 17 kali aksi pembantaian terhadap bangsa Palestina yang dilakukan oleh Bangsa Yahudi. Hampir semua bumi Palestina berwarna merah darah; pembantaian Dir yasin, Sobro dan Syatilla, Bahrul Baqardan lain sebagainya. Ribuan orang terusir dari kampungnya, mereka yang lari ke masjid dan gereja pun tak luput dari pembantaian. Tercatat lebih dari 24 kali peristiwa pembantaian dilakukan oleh bangsa Yahudi dan anehnya pihak Barat mengatakan bahwa itu hanya peristiwa kecil yang tak perlu dibahas lebih lanjut.

Para ulama dan fuqoha pun berijma dan bersepakat bahwa jika ada tanah umat islam yang dirampas, maka semua umat islam wajib membebaskannya. Baik yang besar, kecil, laki-laki bahkan dalam kondisi seperti ini para wanita tak perlu lagi izin suaminya untuk berjihad. “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (At-Taubah: 41)

Sesungguhnya derita yang dialami oleh saudara kita di Palestina yang telah berlangsung selama 60 tahun ini akan terus hidup bersama kita, siang malam. Semenjak Negara Israel diproklamirkan, sampai pada hari ini penderitaan tak pernah henti. Tangis para ibu yang kehilangan anaknya. Jeritan mereka yang ditahan di penjara-penjara Israel. Ini bukan derita satu hari atau satu tahun, namun ini telah berlangsung selam 60 tahun, mulai tahun 1948 sampai hari ini!!!

Derita ini, tak hanya dirasakan oleh Bangsa Palestina saja. Namun perlahan virus penjajahan ini terus menjalar ke sekujur tubuh ummat Islam tanpa terasa. Dia memporak-porandakan Somalia, merampas kekuatan Libya, menjajah Afghanistan, membumihanguskan Irak, mengepung Syria dan Iran, memunculkan beragam fitnah di Libanon, dia berusaha memecah belah Sudan bahkan virus keji ini telah memiliki pangkalan militer di berbagai Negara Arab.

Virus ini berjangkit dengan tanpa terasa. Secara tak langsung, ia menjerat umat Islam. Kadang dengan bantuan pinjaman utang Luar Negeri, kadang dengan dipaksakannya sebuah sistem pendidikan yang memihak ke Barat dan Amerika. Bahkan, kadang dengan bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan, dengan serbuan budaya bebas nilai, seks bebas atau bahkan dengan slogan toleransi dan kebebasan beragama, juga dengan isu HAM dan isu demokrasi, reformasi dan lain sebagainya.

Kini virus keji itu berbicara dengan bahasa perdamaian yang mengandung makna “menyerah” yang penuh dengan fatamorgana. “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (An Nuur: 39).

Berbagai pembicaran damai telah digelar, mulai dari Oslo, Camp David, Sarm Syeikh, Peta Jalan Damai dan lainnya namun tak ada hasilnya. Malah yang terjadi adalah pemutar balikkan fakta. Rakyar palestina menjadi pengungsi, aksi bom syahid dikatakan sebagai aksi terorisme, tanah yang dirampas menjadi pemukiman, penjajah menjadi penduduk asli, para pejuang Hamas dan Jihad Islam disebut sebagai perusak dan teroris. Semakin lengkaplah derita umat Islam ini.

“Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk mu, hingga datanglah kebenaran dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya” (At-Taubah; 48). Bukan hanya sisi politik Umat islam yang dirampas, namun sector ekonomi umat islam juga semakin terancam dengan diberlakukanyya pasar bebas di kawasan Timur Tengah.

Kepada Rakyat Palestina
Wahai para pejuang sejati, lemahnya posisi membuat kami tak dapat berjihad langsung bersama kalian menghadapi apa yang kalian hadapi, menyongsong janji Allah: “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (At-Taubah: 14)

Mohonlah pertolongan pada Allah dan bersabarlah. Satukan barisan. Jangan tertipu oleh dunia. Jangan kalian disibukkan oleh urusan konflik politik sehingga melupakan problem asasi kita yang sebenarnya. Ingatlah bahwa inti kekuatan kalian terletak pada persatuan dan kuatnya persaudaraan. “Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (Muhammad: 35)

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka . Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan , sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (An -Nisa: 104)

Wahai Umat Islam
Berbuatlah sesuai dengan realita. Kita memiliki modal untuk bangkit. Sikap keprajuritan adalah langkah awal kemenangan. “Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam tertipu.” (Al-Mulk: 20)

Hendaknya langkah awal kalian adalah kembali pada Allah SWT, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf; 96)

Wahai para Pemimpin 
Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan sangat dahsyat. Masing-masing manusia akan menghadap Allah SWT. “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Maryam: 95)

Kami khawatir akan beban berat yang kalian emban. “Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban mereka, dan beban-beban di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” (Al-Ankabut: 13).

Ingatlah akan rakyat kalian yang kalian pimpin, ini adalah amanah. Jangan sampai pada hari kimat nanti, ini akan menjadi penyesalan.

Pada para Ikhwan
Ingatlah selalu syiar kalian. Jadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam setiap aktifitas yang dilakukan. Bukankah Allah memberikan kabar gembira bagi mereka yang berniat tulus dan berhati baik. “kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (Asy-Syuara: 89)

Jadikan Rasulullah saw sebagai teladan yang terus hidup dalam jiwa kalian yang akan membangkitkan semangat kalian. “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 128)

Berdoalah terus untuk Al-Aqsha. Dan jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kalian dan bekal dalam perjalanan juga sebagai landasan dalam bermuamalah dengan manusia yang lain.

Ingatlah bahwa siapa saja yang menginginkan kehidupan akhirat maka itu dapat diraih dengan pertolongan Al-Qur’an. Juga barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka juga dengan wasilah Al-Qur’an. Bahkan yang menginginkan kebahagiaan pada keduanya, juga dengan Al-Qur’an.

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu , maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu'min bertawakkal.” (Ali Imran: 160)



Selengkapnya.....

Little Idol


Sobat, kenal kan dengan Rizki P. Egeten (Kiki) asal Manado. Yup dia adalah pemenang Kontes pencari bakat “Idola Cilik 2008” di salah satu stasiun televisi swasta. Kiki berhasil meraih dukungan suara tertinggi dan nyisihkan Angelica Martha Pieters atau Angel di tempat kedua. Ga tanggung-tanggung, 50 juta perak digondol oleh Kiki. Sementara Angel kudu puas dengan hadiah sebesar 30 juta rupiah (kapanlagi.com). Dengan duit sebanyak itu, apa yang diinginkan oleh Kiki? Konon, Kiki ingin membantu ekonomi kedua orang tuanya. Ayahnya yang mengalami kecelakaan di masa lalu, membuatnya ga mampu bekerja lagi, sedang ibunya hanyalah seorang karyawan toko. Begitulah pendapat Kiki di salah satu situs di internet. Selanjutnya, situs tadi menulis bahwa, “ungkapan tulus Kiki bisa salah satu bukti kalau Idola Cilik tidak hanya diasumsikan sebagai eksploitasi anak–anak semata.” (rcti.tv). Masa sih...?


Kesuksesan pihak tivi swasta dalam perhelatan Idola Cilik, membuat keberadaan Idola Cilik 2 di waktu dekat bakal digeber kembali. Ribuan adek-adek kita sekarang pada ngantri untuk ikut audisi. Target penyelenggara tentunya bocah usia 7 hingga 12 tahun. Dengan umur yang masih bau jahe (bosen dong kencur terus...), ga susah bila pihak produser ingin mengeruk rupiah sebanyak-banyaknya. Sebut saja kontes Da’i Cilik, MamaMia, dan Kecil-kecil Cabe Rawit. Karena kontes bakat untuk remaja dan dewasa udah mulai pudar popularitasnya. Alias udah sampe ambang jenuh. Apalagi keinginan untuk nampang di tivi, jadi terkenal, banyak uang, dan bergelar idola adalah jawaban seragam yang diberikan oleh adik-adik kita yang begitu bernafsu ngikut audisi. Bisa juga lho ini gara-gara desakan dan dukungan ortunya. Apalagi kalo matanya udah berwarna hijau bin gila duit. By the way, dibalik itu semua, apa memang bener kontes semacam ini memang bertujuan mulia? Apa memang bener pencarian bakat instan ini dibolehkan dalam Islam? Trus gimana positif negatifnya dengan perkembangan jiwa anak? Nah..sobat, islamuda kali ini bakal ngupas tuntas soal ini. So jangan kemana-mana ya, tetep aja selidik buletin yang makin manis ini. (yee..narsis).

Mau jadi Idola Kecil?

Sobat, kalo diantara kita ada yang punya adek kecil, pasti ngerti banget gimana karakter dan sifat mereka. Yup, anak kecil itu ibarat kertas putih yang polos. Gampang diisi, ditulisi, dan diwarnai oleh lingkungan tempat diri bernaung. Termasuk oleh keluarga, sebagai ekosistem terkecil mereka. Keinginan ortu yang menggebu untuk meraup rupiah, bisa jadi blunder yang amat berbahaya bagi para bocah. Sedewasa apapun mereka untuk dipaksa, baik dandanan, tampilan maupun lagu yang dinyanyikan, mereka masih anak-anak yang butuh asupan positif bagi pribadinya. Sebut saja salah satu finalis Idola Cilik, Gabriel Stevent Damanik asal Batam, sedewasa apapun dia dipaksa untuk tampil di panggung, tetep saja Gabriel masih suka disuapin oleh ibunya saat makan dan masih suka mengisap jempol ketika tidur. Hehe. Sayangnya banyak ortu yang ga sadar akan hal ini. Tentang perlunya edukasi yang jernih bagi sang anak. Boro-boro ortu, pihak produser malah jauh lebih parah. Emang gue pikirin, katanya. Yang penting uang mengalir ke kantong. Padahal, kalo dari awal adek-adek kita dibentuk demi tujuan mendulang uang dan kekayaan, ujung-ujungnya nanti bakal muncul the lost generation, alias generasi yang hilang. Negeri ini bakal kebingungan nyari sosok buah hati yang punya visi dan idealisme. Dan juga jangan heran, bakal tercipta generasi idola yang berperilaku bejat seperti Sylvester Stalonne, Madonna dan Lindsay Lohan. Nah, sobat, bukankah sekarang ini semua udah mulai nampak?

Ga salah kalo kita telaah perkataan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi. Beliau mengungkapkan kalo pelaku industri televisi dan orang tua sering ga menyadari telah melakukan eksploitasi terhadap anak, lewat dunia hiburan di televisi. Karena sudah ada unsur instruksi dan tekanan psikologis, hal itu disebut eksploitasi dan penyalahgunaan hak anak. Kak Seto mencontohkan kontes bakat menyanyi dan sinetron yang marak di sejumlah stasiun televisi saat ini. Anak-anak tersebut tampil dengan riasan wajah yang tebal, baju seperti orang dewasa, jam siaran yang melebihi tiga jam, serta menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang ditentukan pihak produsernya. Beliau menambahkan, kalo itu semua demi kepentingan televisi dan orang tua, bukan keinginan anak-anak. Padahal anak-anak berhak untuk bisa bermain dengan gembira, tanpa ada tekanan atau paksaan harus begini dan begitu (kompas.com). Nah, ngomong-ngomong soal eksploitasi anak, seringkali kita memandang rendah (maaf) para pengemis di jalan yang menggunakan sang anak sebagai ujung tombak meneguk rupiah. Emang sih, apa yang mereka lakukan ga bisa dibenarkan. Meski paling banter, anak mereka dalam sehari dapat uang sekitar 20 ribu perak. Bandingkan dengan kontes semacam idola cilik. Ga tahu tuh berapa rupiah yang bisa mereka dapatkan untuk orang tua mereka. Aduh-aduh, eksploitasi gede-gedean nih. 

Hal ini juga diiyakan oleh Mbak Ria Fariana, penulis buku No Man No Pain dan Mutiara. Dia menulis bahwa, orang tua seperti ini tak lagi memikirkan kebutuhan anak. Kebutuhan asasi yang dipunyai seorang anak adalah kebutuhan bermain dan berkembang dengan maksimal dalam koridor yang positif. Seorang anak ga akan berkembang dengan alami dan maksimal, bila sejak kecil ia sudah berkenalan dengan sejumlah make-up, dandanan meniru orang dewasa, aktivitas bejibun seputar konser sana-sini, pemotretan dan syuting sana-sini, dll (gaulislam.com).

Sekilas, kontes semacam itu ibarat mencari emas di tengah hamparan pasir. Sebut saja kisah Kiki yang ingin membantu ekonomi kedua ortunya, sepintas mampu membuat audience mengharu biru. Padahal ini semua malah bikin bias perhelatan konser ini. Kiki yang ber-idol ria adalah sebuah problem, sedang ortunya yang ga bisa memberi nafkah adalah masalah yang lain. Kedua hal ini ga bisa disatukan. Kudu dipisah. Karena solusinya memang berbeda. Sayangnya, dua sudut pandang ini dikerucutkan jadi satu oleh produser. Akhirnya, yang bener jadi salah dan yang salah seakan menjadi sebuah kebenaran. Jangan lupa, seorang anak, apalagi yang belum dewasa, ga punya tanggung jawab untuk menafkahi kedua ortunya, sebaliknya, orang tualah yang punya kewajiban besar untuk memenuhi kebutuhan sang anak. Titik. Masih banyak lho, cara lain yang lebih mulia. Semisal mendidik anak untuk jadi wirausahawan.atau enterpreneur.

Sobat, orang tua yang sadar akan tanggung jawabnya, bakal berpikir ribuan kali untuk mengikuti alur eksploitasi ini. Kita bisa ambil contoh dari Butet Trivyantini, ibunda dari Ratnakanya Annisa Pinandita (Kanya). Dia menilai anak akan kehilangan masa bermain dan belajar dengan adanya jadwal syuting yang ketat, plus bermacam aturan yang ditetapkan oleh produser. “Anak-anak yang tampil dalam kontes bakat kehilangan keceriaan khas anak-anak yang polos dan wajar. Mereka terlihat lebih dewasa dari usia yang sesungguhnya karena riasan, kostum, dan lagu-lagu yang dibawakan semuanya seperti orang dewasa. Saya tidak mau Kanya seperti itu.” Nah, buat para ortu, masih mau sang anak kehilangan masa kecilnya?

Hasil Kapitalisme

Sobat, ga bisa dipungkiri lagi, kalo semua ini akibat cara berpikir ala kapitalis yang udah menghinggapi kita semua. Ga ada lagi yang namanya nilai kemanusiaan, pengertian dan pemahaman untuk perkembangan pribadi anak. Semua udah sirna dengan silaunya gemericik uang. Yup, cuma karena uang, masa depan ribuan anak bisa dikorbankan. Ya, hanya industri hiburan yang diuntungkan, bukan yang lain. Demikian juga yang dirasakan Ronal Surapradja. Dia ngerasa sangat sulit melawan industri televisi saat ini. Karena industri hiburan menentukan apa dan siapa yang boleh tampil. Sedangkan pelaku di dunia hiburan seperti dia ataupun anak-anak yang bergelut di industri entertainment, ga punya pilihan lain kecuali menuruti keinginan industri televisi. “Kita ini siapa? Mau melawan industri yang besar? Tidak bisa. Memang itu yang diinginkan dan itu yang laku dijual,” kata Ronal. Dia juga mengatakan, kalo seseorang udah memasuki bisnis hiburan di televisi, ga banyak yang bisa memegang teguh idealismenya (kompas.com). Tuh kan bikin was-was.

Ga bisa kita bayangin, gimana nasib adik-adik kita di masa mendatang, kalo yang ada di benak mereka hanyalah sekedar popularitas semu dan gelimangnya uang. So, ga salah bila hasil jerih payah media untuk mencetak generasi-generasi gila harta bakal berimbas kepada pribadi mereka esok. Kalo mereka jadi pemimpin, ga usah nyesel ya, karena mereka hanya akan memikirkan kesenangan pribadi dibanding penderitaan rakyat. Hehe, siapa yang kesindir tuh..?

Nah, inilah yang sekarang jadi pe-er kita bersama. Bukan cuma islamuda doang lho. Kenapa, karena semua pihak bertanggung jawab. Khususnya institusi terkecil anak-anak, yaitu keluarga. Pendidikan anak adalah keutamaan dalam keluarga. Insya Allah, hal ini bakal kita bahas di akhir analisa. Tapi jangan dikira negara lepas tangan dalam problem besar ini. Justru negara punya andil terbesar dalam terselenggaranya program-program tadi. Paling tidak begitulah ungkap Sekretaris Jendral Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait. Dia menyebutkan kalo memang perlu adanya kesadaran dari pelaku industri televisi, bahwa mereka juga memikul tanggung jawab edukasi dalam tayangannya. “Orang tua juga harus sadar bahwa anak-anak memiliki hak bermain dan belajar seperti diatur dalam Undang-undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Kalau sudah terjadi eksploitasi anak, maka itu sudah termasuk tindakan pidana,” katanya.
Jadi jelas deh, aturan kudu ditegakkan, bukan sekedar pepesan kosong. Dan alangkah mulianya kalo kita mau melirik ke aturan yang tegas dan konkrit dari Allah SWT, bukan yang lain.

Kedudukan Anak dalam Islam

Sobat, tadi kita sudah janji untuk ngebahas gimana sih porsi si kecil dalam Islam. Hal ini sangat penting lho, walaupun ada diantara kita yang belum berkeluarga. Paling tidak, ini bisa jadi investasi pengetahuan yang super berharga. Sobat, orang tua dalam Islam punya tanggung jawab yang gede untuk mendidik sang anak. Sampai-sampai Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(TQS.At-Tahrim:6)

Banyak ahli tafsir yang memberikan penjelasan pada ayat tersebut. Salah satunya adalah Al-‘Allamah Ibnu Katsir yang menukil penjelasan para ahli. Diantaranya Ali r.a., ketika menjelaskan kalimat “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” berkata, “Didiklah mereka dan ajarlah mereka”. Ibnu Abbas berkata, “Taatlah kepada Allah, jauhilah perbuatan maksiat dan perintahkan keluargamu untuk selalu dzikir (ingat kepada Allah), maka Allah akan menyelamatkanmu dari api neraka.” Qotadah berkata, “Hendaknya engkau perintahkan keluargamu untuk mentaati Allah, engkau larang mereka berbuat maksiat, engkau layani mereka dengan ketentuan-ketentuan Allah dan engkau perintahkan serta engkau bantu mereka untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat maka celalah dan hardiklah mereka.” Adl-Dlahak dan Muqatil berkata, “Setiap orang Islam berkewajiban untuk mengajar keluarganya baik kerabatnya maupun pembantunya tentang apa-apa yang diwajibkan oleh Allah dari apa-apa yang dilarang-Nya.”

Sedangkan menurut Sayyid Sabiq, memelihara diri dan keluarga termasuk anak dari neraka adalah dengan pendidikan dan pengajaran, kemudian memperhatikan perkembangan mereka agar berakhlak mulia dan menunjukkan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat dan membahagiakan.

Jadi jelas sudah, pendidikan bagi anak adalah mutlak sebuah kewajiban bagi orang tua. Pendidikan yang islami tentunya. Malahan, bagi orang tua yang mendidik anaknya dengan tekun dan Islami, Allah SWT telah menjanjikan surga. Ya, surga. Allah lho yang janji. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang diantara kamu yang memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan kemudian mendidik mereka dengan sebaik-baiknya kecuali ia akan masuk surga.” (HR.At-Tirmidzy dari Abu Said Al-Hudri). Jelas kan....(dy)
Buletin Islamuda Edisi: 101/okt/2008
sumber: islamuda.com


Selengkapnya.....

Jumat, 24 Oktober 2008

Krisis Keuangan Global - Kapitalisme di Jurang Kehancuran


Akibat ketamakan pengikutnya, kapitalisme sedang menuju jurang kehancuran. Sistem keuangan syariah adalah solusi krisis keuangan global ini.

Goncangan sangat hebat sedang melanda dunia. Krisis finansial (keuangan) yang melanda Amerika Serikat (AS) mengancam kesinambungan perekonomian negara lainnya. AS dengan kapitalismenya telah menjadi sumber malapetaka dunia.

"Kebangkrutan besar-besaran sedang berjalan. Tidak hanya melanda AS, tetapi juga seluruh dunia," kata Hidayatullah Muttaqin SE MSI dalam orasi ilmiah pada halal bihalal Muslim Kalsel, Ahad (19/10) di GOR Hasanuddin HM, Banjarmasin.


Pertengahan 2007 perekonomian AS dan negara-negara Barat mulai menghadapi masa suram dengan krisis kredit yang menelan kerugian ratusan milyar dolar dan menyebabkan kebangkrutan perusahaan keuangan. IMF menyatakan krisis kredit telah membawa AS kepada goncangan krisis keuangan yang terbesar sejak depresi besar 1929.

Kemudian diperparah dengan krisis pasar modal. Selama Januari 2008, pasar modal dunia kehilangan nilai kapitalisasinya sebesar 5,2 triliun atau 49.400 triliun rupiah. Kerugian ini setara dengan 54 kali penerimaan APBN Perubahan Indonesia 2008.

Meski berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk pemerintah George W Bush memaksa rakyatnya membayar hutang-hutang perbankan sebesar 700 miliar dolar atau setara 6.650 triliun rupiah, tidak menyelesaikan masalah. Amerika tidak lagi adidaya.

"Triliunan dolar AS dikucurkan dan upaya lainnya hanya menunda waktu kebangkrutan dan kehancuran, bukan untuk menyelesaikan masalah. Krisis ini menunjukkan, bahwa kapitalisme di ujung tanduk," tandas pengamat ekonomi dari Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) ini.

Krisis terjadi, lanjutnya, karena ketamakan sistem kapitalis. Kapitalisme menyebabkan kemiskinan makin dalam, dan ribuan anak meninggal dunia akibat kemiskinan.

"Wajah Barat saat ini memperlihatkan betapa bobrok dan rapuhnya sistem keuangan yang ditopang riba dan judi. Saatnya sistem ekonomi diatur berdasar Alquran dan sunnah, fungsi negara adalah sebagai pengatur dan pelayan urusan umat," tegasnya.

Islam Bersatu

Gubernur Kalsel Drs H Rudy Ariffin MM, di acara yang digelar DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kalsel tersebut, menyerukan persatuan umat Islam dalam menghadapi krisis keuangan.

"Untuk menghadapi krisis keuangan global, dan menghadapi tantangan zaman, semua umat Islam bersatu," kata Rudy dihadapan ribuan aktivis, simpatisan HTI, dan jamaah majelis taklim.

Orang nomor satu di Prov Kalsel ini, menggambarkan kesatuan umat itu seperti di Masjid Amru bin Ash. Di masjid tertua di negara Mesir tersebut, majelis taklim dibuka bagi empat mazhab.

"Namun ketika salat, semua bersatu mengikuti imam," ungkapnya menceritakan pengalamannya ketika meresmikan asrama mahasiswa Kalsel di Kairo, Mesir.

Sementara Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah H Hermani Abdurrahman menegaskan, Allah telah menunjukkan kepada dunia bahwa tidak ada satu sistem ekonomi ciptaan manusia pun bisa bertahan terhadap gelombang keserakahan manusia itu sendiri.

"Sistem ekonomi syariah adalah solusi terbaik dari kegagalan sistem ekonomi sosialis dan kapitalis untuk memberikan rasa keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran umat," tandasnya.

Ketua DPD I HTI Kalsel, M Baihaqi Al Munawar SHut, mengatakan sebelum peristiwa kebangkrutan ekonomi AS di Wallstreet, kapitalisme di AS menjadikan 37,5 juta warga negaranya jatuh dalam kemiskinan.

"Sosialisme sudah hancur berkeping-keping. Kapitalisme sudah sempoyongan dan sebentar lagi dengan izin Allah akan hancur seperti komunisme, maka kita umat Islam tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada Islam, menegakkan kekuasaan Islam dalam naungan khilafah islamiyah," pungkasnya.

Acara ini juga diisi orasi Ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin KH Tabrani Basri, Direktur Intel Polda Kalsel Komisaris Besar Polisi Arkian Lubis, dan KH Husin Naparin Lc MA. ü

Oleh: Siti Hamsiah
Serambi Ummah - Banjarmasin Post Online

Selengkapnya.....

Senin, 20 Oktober 2008

Asal-usul angka Nol


Waclaw Sierpinski, seorang pakar Matematika yang cemerlang … cemas karena kehilangan sebuah tas bawaannya. “Tidak sayang!”, kata istrinya. “Semuanya ada enam di sini”. “Tidak mungkin”, Kata Sierpinski. “Aku telah menghitungnya berulang kali: nol, satu, dua, tiga, empat, lima.” – The Book Of Number

Dalam sehari-hari, sesungguhnya kita tidak membutuhkan angka nol, benar-benar tidak butuh. Ketika anda ditanya, ‘Punya berapa jerukkah anda ?’, maka anda akan cenderung untuk mengatakan ‘Saya tidak punya jeruk’ ketimbang mengatakan ‘Saya mempunyai nol jeruk’. Ketika kita mempunyai seorang adik dan ditanya ‘Berapa tahun umur adikmu itu ?’. Maka kita lebih memilih untuk menjawab ‘Umurnya baru 1 bulan’ daripada harus menjawab dengan ’Umurnya baru 0 tahun’. Inilah masalahnya, karena dalam prakteknya kita sama sekali tidak memerlukan angka nol.

Maka dalam waktu yang sangat lama pada sejarah perjalanan manusia, angka nol tidak muncul. Dan ternyata angka nol sendiri relative belum terlalu lama ditemukan, karena memang ‘tidak penting’.


Petunjuk mengenai awal manusia mengenal hitungan ditemukan oleh arkeolog Karl Absolom tahun 1930 dalam sebuah potongan tulang serigala – ternyata mereka lebih bernyali, karena kita lebih memilih untuk menggunakan media kertas dibading tulang serigala – yang diperkirakan berumur 30.000 tahun.

Terserah anda akan membayangkan seperti apa 30.000 tahun yang lalu itu dan bagaimana kita hidup jika telah dilahirkan pada masa itu.

Pada potongan tulang itu ditemukan goresan-goresan kecil yang tersusun dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas lima. iiiii iiiii iiiii. Entah apa yang telah dihitung oleh Manusia gua Gog. Apakah ia sedang menghitung berapa lalat yang telah ia lahap, ataukah sudah berapa lama ia tidak mandi, entahlah. Dan pada zaman ini angka nol sama sekali belum muncul, karena memangnya untuk apa ?

Jauh sebelum zamannya si Gog, diperkirakan manusia baru mengenal angka satu dan banyak atau satu, dua dan banyak. Pada saat ini ternyata masih ada yang menggunakan sistem ini, yaitu suku Indian Sirriona di Bolivia dan orang-orang Yanoama di Brasil. Ternyata seiring berjalannya waktu, mereka mulai merangkai angka yang sudah ada. Suku Bacairi dan Baroro memiliki system hitung ‘satu’, ‘dua’, ‘dua dan satu’, ‘dua dan dua’, ‘dua dan dua dan satu’, dst. Mereka memiliki system angka berbasis dua dan kita sekarang menyebutnya dengan system biner – saat ini kita sering mempelajarinya jika kita mempelajari system hitungan yang digunakan komputer. Saat ini pun kita menuliskan sebelas sebagai sepuluh dan satu, dst.

Sekarang kita menyebut system basis lima yang digunakan si Gog adalah system quiner. Mengapa Gog memilih lima sebagai basisnya, dan bukannya basis empat atau enam ? Toh, basis berapapun yang dipilih, maka system penghitungan akan tetap bisa dilakukan. Tampaknya ini dipilih karena manusia sajak dari dulu sampai sekarang memiliki lima jari di setiap tangan. Penyebutan Baroro untuk ‘dua dan dua dan satu’ adalah ‘seluruh jari tangan saya’ dan masyarakat Yunani kuno menyebut proses penghitungan dengan fiving – melimakan. Tapi sampai saat itu angka nol tetap belum muncul, karena kita tidak perlu mencatat dan mengatakan ‘nol serigala’ dan ‘nol adik kita’ bukan ?

Sejak masa Gog manusia terus mengalami kemajuan. Kembali kita menelusuri mesin waktu, lima ribu tahun yang lalu, orang-orang Mesir mulai membuat tanda untuk menunjukkan ‘satu’, tanda lain untuk menunjukkan ‘lima’, dsb. Sebelum masa piramida, orang-orang Mesir kuno telah menggunakan gambar untuk system bilangan desimal – basis sepuluh, jari dua tangan saya – mereka. Bangsa Mesir akan menggambar enam simbol untuk mencatat angaka seratus dua puluh tiga ketimbang menggambar 123 garis. Bangsa Mesir dikenal sangat menguasai matematika. Meraka pakar perbintangan dan pencatat waktu yang handal dan bahkan sudah menciptakan kalender. Penemuan sistem penanggalan matahari merupakan terobosan besar dan ditambah dengan penemuan seni geometri . Meskipun mereka sudah mencapai matematika tingkat tinggi, namun angka nol ternyata belum muncul juga di Mesir. Ini dikarenakan mereka menggunakan matematika untuk praktis dan tidak menggunakannya untuk sesuatu yang tidak berhubungan dengan kenyataan.

Kemudian kita berpindah ke Yunani. Sebelum tahun 500 SM, mereka telah memahami matematika dengan lebih baik dibandingkan Mesir. Mereka juga menggunakan basis 10. Orang Yunani , sebagai contoh, menuliskan angka 87 dengan 2 simbol, dibandingkan dengan Mesir yang harus menuliskannya dengan 15 simbol, yang justru mengalami kemunduran pada angka Romawi yang memerlukan 7 simbol – LXXXVII. Jika bangsa Mesir menganggap matematika hanyalah alat untuk mengetahui pergantian hari – dengan sistem kalender – dan mengatur pembagian lahan – dengan geometri – , maka orang Yunani memandang angka-angka dan filsafat dengan sangat serius. Zeno yang melahirkan paradoks ketertakhinggaan dan Pytagoras yang sangat kita kenal dengan teorema segitiga siku-sikunya – yang belakangan diketahui bahwa rumus ini sebenarnya sudah diketahui sejak 1000 tahun sebelumnya, dilahirkan di sini. Kita juga mengenal Aristoteles dan Ptolomeus. Mereka dikenal dengan filsafatnya – yang tidak kita bahas dulu, karena akan sangat panjang – walaupun demikian, mereka juga tidak menemukan angka nol. Angka nol tetap belum ditemukan sampai saat ini.

Kembali ke dunia timur, Babilonia – Iraq sekarang – ternyata memiliki sistem hitung kuno yang jauh lebih maju. Mereka menggunakan sistem berbasis 60, seksagesimal , sehingga mereka memiliki 59 tanda. Yang membedakan sistem ini dengan Mesir dan Yunani adalah, bahwa sebuah tanda dapat berarti 1, 60, 3600 atau bilangan yg lebih besar lainnya. Merekalah yang mengenalkan alat bantu hitung abax – soroban di Jepang, suan-pan di China, s’choty di Rusia, coulbadi di Turki, dll yang di sini kita sebut dengan sempoa). Sistem hitung mereka seperti sistem kita saat ini dimana 222 menunjukkan nilai ‘dua’, ‘dua puluh’ dan ‘dua ratus’. Begitu juga simbol i menunjukkan ‘satu’ atau ‘enam puluh’ dalam dua posisi yang berbeda. Orang Babilonia tidak memiliki metode untuk menunjukkan kolom-kolom yang tepat bagi simbol-simbol tertulis, sementara dengan abakus hal ini lebih mudah ditunjukkan angka mana yang dimaksud. Sebuah batu yang terletak di kolom kedua dapat dibedakan dengan mudah dari batu yang terdapat di kolom ketiga dan seterusnya. Dengan demikian i dapat berarti 1, 60 atau 3600 atau nilai yang lebih besar. Sehingga ii dapat lebih kacau lagi, karena bsa berarti 61, 3601, dsb. Maka diperlukan penanda dan mereka menggunakan ii sebagai tempat kosong, sebuah kolom kosong pada abakus. Sehingga sekarang ii berarti 61 dan iiii berarti 3601. Walaupun mereka telah menemukan penanda kolom kosong dengan ii, namun sesungguhnya angka nol tetap saja belum muncul pada kebudayaan ini.ii tetap tidak mempunyai nilai numerik tersendiri.

Maka ketika kita meninggalkan kebudayaan-kebudayaan di atas, tetap saja belum kita temukan angka nol dan dari titik ini kita akan mengalami percabangan untuk menentukan siapa sebenarnya penemu sang angka nol. Asal mula matematika di India masih samar. Sebuah teks yang ditulis pada tahun 476 M menunjukkan pengaruh matematika Yunani, Mesir dan Babilonia yang dibawa Alexander saat penaklukannya. Suatu ketika pakar Matematika India mengubah sistem hitung mereka dari sistem Yunani ke Babilonia tetapi berbasis sepuluh. Namun dari referensi pertama bilangan Hindu yang berasal dari seorang Uskup Suriah pada tahun 662 menyebutkan bahwa mereka menggunakan 9 tanda dan bukannya sepuluh.

Dengan jatuhnya kekaisaran Romawi pada abad VII, Barat pun mengalami kemunduran dan Timur mengalami kebangkitan. Selama bintang Barat tenggelam di balik cakrawala, bintang lainnya terbit, Islam.

Setelah Rasulullah Muhammad saw wafat maka dimulailah masa Khulafur Rasyidin yang dipimpim oleh Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq ra, Amirul Mukminin Umar Bin Khattab Al Faruq ra, Amirul Mukminin Usman Bin Affan Dzunnurrain ra dan Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib kw. Dan saat ini Islam telah tersebar mencapai Mesir, Suriah, Mesopotamia dan Persia dan juga Yerusalem. Pada tahun 700 M, Islam telah mencapai sungai Hindus di Timur dan Algiers di Barat. Tahun 711 M, Islam telah menguasai Spanyol sampai ke wilayah Prancis dan di tahun 751 M telah mengalahkan Cina. Dan di Spanyol yang lebih dikenal dengan Andalusia, mengalami puncak kejayaanya pada abad VIII.

Pada abad IX, Khalifah Al Ma’mun mendirikan perpustakaan megah, Bayt Al Hikmah – Rumah Kebijaksanaan. Dan salah satu ilmuwan terkemukannya adalah Muhammad Ibnu Musa Al Khawarizmi. Tulisan pentingnya antara lain Al-Jabr Wa Al-Muqabala dan dari sinilah muncul istilah aljabar – penyelesaian. Dan juga menyebarkan Algoritma dari kata Al-Khawarizmi.

Dan dari sinilah bangsa-bangsa di belahan dunia lain akan mengikuti sistem bilangan arab yang baru. Bilangan yang terdiri atas sepuluh tanda. Dan akhirnya angka nol pun muncul dan selesailah perjalanan kita. Dan kita tetap belum tahu secara pasti apakah angka nol pertama muncul di India ataukah di Andalusia ataukah di Arab. Namun suatu hal yang pasti, ia baru muncul pada abad – minimal – VI atau bahkan lebih. Wallahu ‘alam.

*Sebagaian diambil dari buku berjudul Biografi Angka Nol oleh Charles Seife

sumber http://shofiqsula.wordpress.com/2008/08/07/asal-usul-angka-nol/

Selengkapnya.....

Jumat, 17 Oktober 2008

Negara Miskin Semakin Terpuruk akibat Krisis


LDK-AMAL. Kebrutalan Tentara Israel terus terjadi. Sumber medis Palestina mengatakan, tentara Israel telah menembak mati dua warga Palestina dalam peristiwa terpisah di dekat kota Ramallah, Tepi Barat Sungai Jordan.

Abdel Kader Zeid (17) meninggal setelah ditembak di bagian dada di luar permukiman Yahudi Beit-El, Selasa malam. Pihak Militer Israel menuding pria tersebut mengancam akan menggunakan bom bensin.

Sementara itu pada hari Rabu (15/10), tentara melepaskan tembakan dan membuat Mohammed ar-Ramahi (21) menderita luka parah delama bentrokan yang terjadi menyusul pemakaman Zeid di dekat kamp pengungsi Jalazun, kata beberapa saksi mata dan sumber rumah sakit Ramallah.


Ar-Ramahi meninggal akibat luka-lukanya beberapa jam kemudian, kata beberapa pejabat rumah sakit Ramallah. Sedikit-dikitnya 536 orang telah tewas sejak Israel dan Palestina secara resmi meluncurkan pembicaraan perdamaian dukungan AS pada November, kebanyakan dari mereka adalah orang Palestina yang tewas di Jalur Gaza, demikian perhitungan AFP.

Masyarakat internasional menganggap permukiman Israel di Tepi Barat tidak sah. Penjajahan atas Palestina oleh Isral telah berlangsung sejak 1948. Atas bantuan PBB waktu itu, Israel merampas tanah yang pada masa Sultan Abdul Hamid II dipertahankan. Kini, dengan leluasa Israel merobohkan rumah-rumah milik warga Palestina, mengusir warganya, dan membangun perumahan baru di tanah milik kaum Muslim tersebut.

Tanpa keberadaan Khilafah, siapa yang akan melindungi dan membebaskan Palestina? (nl/ant)

Selengkapnya.....

Minggu, 12 Oktober 2008

Pemenang Nobel: Matinya Model Kapitalisme AS


Pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi Joseph Stiglitz mengingatkan negara-negara yang selama ini meniru sistem kapitalisme gaya Amerika, bersiap-siaplah untuk menghadapi "kehancuran" ekonominya. Ia mengatakan, upaya penyelamatan yang diumumkan pemerintahan George W. Bush berupa kucuran dana sebesar 700 milyar dollar serta rencana nasionalisasi sejumlah bank merupakan tanda-tanda kematian sistem kapitalisme ala AS.

"Orang-orang di seluruh dunia dulu sangat mengagumi sistem perekonomian kita, dan kami mengatakan jika Anda ingin seperti kami, inilah hal-hal yang harus kalian lakukan--serahkan kekuasaan pada pasar. Yang jadi persoalan sekarang, mereka yang tidak menghormati model itu lagi yang kini menjadi penyebab krisis ini terjadi," kata Stiglitz pada Washington Post edisi Jumat (10/10).


Hari Jumat kemarin, Presiden Bush mengumumkan rencana penyelamatan baru senilai 700 milyar dollar dan untuk pertama kalinya pemerintah AS memberikan otorisasi pada Departemen Keuangannya untuk membeli bukan hanya pinjaman-pinjaman hipotek yang macet, tapi juga bank-bank yang bermasalah.

Kebijakan nasionaliasi secara parsial dalam industri perbankan, merupakan langkah baru yang diambil pemerintahan Bush dari sejumlah langkah yang dilakukan untuk menstabilkan perekonomiannya akibat hantaman badai krisis keuangan. Meski langkah nasionalisasi tersebut oleh sejumlah kalangan dianggap sebagai langkah yang kurang perhitungan. Sejauh ini, pemerintah AS sudah mengambil alih lembaga-lembaga pinjaman seperti Fannie and Freddie Mac serta memberikan kucuran dana untuk menyelamatkan perusahaan asuransi terbesar di AS, AIG.

Lebih lanjut Stiglitz mengatakan, krisis keuangan di AS yang menjalar menjadi krisis keuangan global bahkan lebih buruk dari Great Depression pada era 1930-an membuka mata masyarakat internasional akan rapuhnya sistem kapitalisme yang dianut Negeri Paman Sam. Sistem ini terbukti, pada akhirnya hanya membuat mereka yang menganutnya menjadi sengsara.

"Setiap orang merasa, penderitaan yang mereka alami sekarang karena ulah kami," ujar Stiglitz.

Dunia kini sedang mengkhawatirkan akan terjadinya resesi global, melihat kondisi sejumlah bursa saham di dunia ikut anjlok mulai dari Eropa, Asia sampai Timur Tengah. Sejumlah negara bahkan sempat menghentikan perdagangan di bursa sahamnya, antara lain Rusia, Austria, Islandia, Rumania, Ukraina, Brazil termasuk Indonesia.

Di Korea, Menteri Keuangan Korea Selatan sampai mengatakan,"Banyak orang Korea bertanya, bagaimana bisa negara Amerika Serikat bisa menjadi begitu lemah."

Pada akhirnya, moral negara besar seperti AS yang selama ini membangga-banggakan sistem kapitalisme yang dianutnya ke berbagai negara di dunia, dipertanyakan setelah AS sendiri tidak mampu membuktikan bahwa model ekonomi yang dianutnya adalah model ekonomi yang bisa mensejahterakan umat manusia.

Negara-negara yang selama ini, menghindar dari ajakan AS untuk mengikuti model ekonominya, terbukti tidak terlalu terpengaruh dengan krisis keuangan global yang terjadi saat ini. Direktur Peterson Institute for International Economics, C. Fred Bergsten mencontohkan salah satu negara itu adalah China.

"Jika Anda melihat di seluruh dunia, China jauh lebih baik sekarang dibandingkan AS. China, yang selama ini bertahan untuk tidak mengikuti seruan Washington dan Wall Street agar mengadopsi gaya kapitalisme Amerika, nampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh kehancuran ekonomi yang terjadi saat ini," papar Bergsten.

Kini sudah saatnya, masyarakat dunia, termasuk Indonesia, tidak lagi mengekor AS dalam sistem perekonomiannya. Amerika dan sistem kapitalisme sudah mati, dan saatnya melirik alternatif sistem perekonomian yang lebih manusiawi dan beradab, salah satunya sistem perekonomian Syariah.(ln/iol)
eramuslim.com


Selengkapnya.....

Sabtu, 11 Oktober 2008

Warga Palestina di Jalur Ghaza, Menyambung Hidup Lewat Terowongan Bawah Tanah



Saat ini ada ratusan terowongan bawah tanah yang berada di bawah perbatasan antara Jalur Ghaza-Mesir dan sumber-sumber di kedua wilayah itu mengatakan, lebih dari 6.000 warga Palestina yang terlibat dalam "industri bawah tanah" yang menurut para pedagang kebanyakan dikontrol oleh otoritas Hamas.

Blokade ekonomi yang dilakukan Israel terhadap Jalur Ghaza mendorong warga Palestina di Ghaza memcari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah menggali terowongan-terowongan yang menembus sampai ke perbatasan Mesir. Melalui terowongan-terowongan inilah makanan dan bahan bakar disalurkan ke Jalur Ghaza, meski untuk menyalurkan "barang-barang berharga" itu nyawa menjadi taruhannya.

Saat ini ada ratusan terowongan bawah tanah yang berada di bawah perbatasan antara Jalur Ghaza-Mesir dan sumber-sumber di kedua wilayah itu mengatakan, lebih dari 6.000 warga Palestina yang terlibat dalam "industri bawah tanah" yang menurut para pedagang kebanyakan dikontrol oleh otoritas Hamas.


"Industri bawah tanah" itu menerapkan aturan yang ketat tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh diperdagangkan dalam "bisnis" tersebut. Yang dilarang adalah perdagangan senjata, narkoba dan perdagangan manusia. Sementara para operator terowongan dikenakan pajak.

Mengomentari tentang perdagangan "bawah tanah" itu, juru bicara kementerian dalam negeri pemerintahan Hamas, Ehab Gheissen mengatakan, adalah hak rakyat Palestina melakukan apa saja yang mereka bisa lakukan untuk menghancurkan blokade yang dikenakan atas hidup mereka.

"Mereka punya hak untuk melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan, termasuk membuat terowongan-terowongan sepanjang kita mengawasi apa saja yang mereka bawa melalui terowongan-terowongan itu," ujar Gheissen.

Sebagian dari terowongan-terowongan itu dulunya digunakan untuk menyelundupkan senjata pada para pejuang Palestina yang melakukan perlawanan terhadap tentara Zionis Israel. Sejak Hamas mengambilalih kekuasaan di wilayah Ghaza bulan Juni 2007, rezim Zionis Israel memblokade Jalur Ghaza dengan menutup semua perbatasan dengan Ghaza, sehingga warga Ghaza terisolasi bahkan sulit untuk sekedar mendapatkan bantuan internasional.

Langkanya barang-barang kebutuhan menyebabkan harga-harga barang seperti tepung gandum dan susu menjadi sangat mahal. Tak heran jika bisnis lewat "terowongan" ini nilainya mencapai jutaan dollar.

Analis bisnis di Ghaza, Sami Abdul Shafi mengatakan, sekarang ini anekdot yang sering terdengar di kalangan masyarakat Ghaza adalah bahwa terowongan-terowongan itu membawa aneka barang "kehidupan", utamanya obat-obatan yang sangat dibutuhkan warga Ghaza.

"Mereka biasanya membawa masuk sepatu, coklat, minuman ringan 7-up, dan sejenisnya," kata Abdul Shafi.

Tapi, tambah Abdul Shafi, lebih dari itu semua, 1,5 juta rakyat Ghaza berhak untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik untuk menjalankan roda perekonomiannya secara terbuka, tidak di bawah tanah.

Nyawa Menjadi Taruhan

Namun, betapapun besar arti terowongan-terowongan itu untuk menjaga agar perekonomian di Ghaza tetap berjalan, tetap ada konsekuensinya. Sedikitnya sejak Januari 2008, menurut data PBB, sudah 35 orang Palestina gugur di dalam terowongan-terowongan.

Abu Mohammed, seorang warga Ghaza, kehilangan anak lelaki dan saudara lelakinya ketika terowongan yang sedang mereka lalui runtuh. Sejak itu, ia melarang anak-anaknya yang lain untuk menggunakan terowongan.

"Apa yang bisa kami lakukan? Kami butuh makan dan mereka mencari nafkah untuk keluarga. Tapi sekarang, saya tidak akan mengizinkan mereka untuk bekerja di terowongan, semiskin apapun kami. Pekerjaan itu tidak layak," kata Abu Mohammed.

Di sisi lain, Mesir mendapat tekanan dari Israel untuk melakukan tindakan atas keberadaan terowongan-terowongan tersebut. Dan Kairo menuruti kemauan rezim Zionis agar perdagangan lewat terowongan dihentikan. Data PBB menyebutkan, selama dua hari di bulan Agustus kemarin, otoritas pemerintah Kairo menghancurkan 28 terowongan milik warga Ghaza. Namun sikap keras otoritas Mesir tidak membuat takut warga Ghaza. Mereka menyatakan, otoritas Mesir tidak pernah menghancurkan semua terowongan karena "bisnis lewat terowongan" itu juga menjadi bisnis yang menguntungkan bagi banyak pedagang di Mesir.

Analis militer, Jenderal Mahmud Khalaf berpendapat, terowongan-terowongan itu seharusnya tidak dilihat sebagai sumber kehidupan bagi warga Palestina. "Kenyataannya, terowongan-terowongan itu dilihat sebagai medium yang vital, meski saya mengakui blokade yang dilakukan Israel membuat kehidupan warga Ghaza menjadi sangat sulit," kata Jenderal Khalaf.

"Tetapi, saya yakin seharusnya terowongan-terowongan ini tidak bisa digunakan sebagai alat untuk maju ke depan," sambungnya.

Hal serupa diungkapkan Abdul Shafi, meski faksinya, Hamas dituding sebagai operator-operator terewongan tersebut. Terowongan-terowongan itu, kata Shafi, membuat rakyat Palestina makin kehilangan kesempatan untuk mengembangkan perekonomiannya dengan layak.

"Dalam jangka panjang terowongan-terowongan tersebut akan menimbulkan konsekuensi berupa bencana, meskipun terowongan-terowongan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga untuk sesaat. Kehidupan di Jalur Ghaza tidak boleh berlanjut dengan mengandalkan operasi-operasi lewat terowongan bawah tanah," tukas Shafi. (ln/aljz)
eramuslim.com



Selengkapnya.....